Rabu, 16 September 2015

Ini standarku, Kamu?



Standar Referensiku Juga Tinggi

Masih menggarap beberapa cerpen yang akan dicarikan jodohnya di beberapa media, mata ini terserang kantuk yang luar biasa. Entah itu karena efek minuman teh serai yang kubuat sebagai pengusir angin yang bertandang di badan, atau memang doaku terkabul untuk merasakan nikmatnya tidur yang nyenyak. 

Masih saja bandel tidak segera tidur, tanganmu gatel untuk memilih aplikasi facebook. Tujuanku hanya satu, ingin memebaca karya yang segar karena tulisanku terasa hambar ditengah perjalanan cerita. Alih-alih sedang menyeleksi bacaan yang ditemukan adalah tulisan yang empunya rumah KBM, grup yang sudah kuanggap sebagai tempat tinggal ke dua.

Ada beberapa tulisan pak Isa Alamsyah yang kubaca dan ditinggali emot senyum cengengesan. Satu yang menarik adalah penjelasan tentang tingginya standart tahap editing yang dilakukan oleh bunda Asma yang tak lain adalah istrinya. Tulisan masuk yang akan disatukan dalam antologi atau buku solonya akan mengalami tahap 3-4 bahkan 10 kali editing. Jeli dan tegasnya wanita hebat satu ini, menurutku. Benarlah yang dilakukannya itu. Standart tinggi bunda Asma memang melahirkan karya yang luar biasa sedapnya untuk dinikmati. Ibarat makanan, karya bunda itu akan memanjakan lidah siapapun yang menikmatinya. Wuidih …. Keren, kan!

Begitu pun aku. Standar bacaanku juga tinggi. Jika saja aku dianggap sombong, tak mengapa. Dalam grup atau bacaan, aku selalu mensortir dulu karya yang enak dilahap. Bacaan yang oke akan menginspirasi kita menulis yang oke pula. Jadi ingat, ketika aku mengatakan malu bila puisiku dikritik oleh pemuisi hebat, maka yang beliau katakana lebih tidak hebat lagi jika karyamu dikritik oleh mereka yang biasa saja. Plak! Masuk akal kan?

Baiklah. Walau pun kalian belum mengenalku siapa sebenarnya, tapi aku tetapmeminta doa tulusnya untuk aku pun kelak menjadi penulis wanita yang hebat seperti bunda Asma Nadia. Bismillah. Bersama Allah aku, kau dan kita semua bisa.

ZT, 13/08/2015 – Lima Belas Menit Menuju Pergantian Tanggal

Godaan Malam



Sudah beberapa malam ini godaan terbesarku adalah mata yang berat minta untuk segera dimanjakan dengan tidur. Laptop sudah menyala tak berapa lama seperti ada yang menggantung di kelopak mata membawa beban yang berat.

Efek KBM yang akan membawa karya membernya go internasional (aamiin ya J ) memaksa aku harus menulis lebih giat lagi. Mengalahkan rasa malas dan pekerjaan yang sebenarnya menumpuk di siang hari. Membagi waktu antara bekerja, membaca, menggali ide juga mulai menulis.

Muka terasa bagai ditampar ketika satu per satu buku mereka dipajang dan dikomentari pak Isa (penulis buku 101 Dosa Penulis Pemula, Humortivasi dll). Bahkan ada yang cukup mencengangkan dan patut ditiru, karyanya lolos dengan minim komentar bahkan mendapat pujian kalau bukunya bisa masuk kategori terbitan ANPH. Wuihhhh *plak!

Dan begitulah, membiasakan diri untuk menulis minimal 150 kata perhati mulai aku terapkan. Seperti sekarang, meski menurut pembaca ini tak memiliki makna yowes rapopo, aku hanya ingin membuktikan kalimat PEMBELAJAR AKSARA.

Apalah-Apalah



Tengah asik self editing tulisan, eh tetangga datang mau curhat dengan emak. Nguping ceritanya? Gak mesti, wong rumah kami yang sederhana hanya bersekat dinding papan sudah pasti mendengar pembicaraan mereka.

Sedihnya cerita si Ibu. Malam mendapat kabar telah dipecat karena sudah lama gak masuk kerja bersebab mengurus orangtuanya yang sakit. Menangis dan tersedu sedan. Kasihan sekali dengan Ibu ini, belum pernah kulihat dia bahagia dalam kehidupan rumah tangganya.

Suaminya pergi dan menikah lagi, sementara dia diabaikan dengan kehidupan yang prihatin. Hidup memang semakin sulit. Entah kapan bahagia itu dirasakannya.

Berbicara soal pekerjaan, tadi siang pun rekan sekantor juga menyampaikan berita kalau ada orang yang ingin bekerja di kantor tempatku mengais rezeki. Mereka pikir gaji yang diperoleh cukup besar sementara aku terlihat santai tanpa berpanasan.

Kalau dipikir jaman yang serba sulit saat ini, cukup disukurin karena aku tidak terlihat nganggur di rumah. Meski gaji kecil namun status social sudah kudapati. Entahlah. Mimpi menjadi ibu rumah tangga masih saja kuat dibenakku.


Sabtu, 12 September 2015

Tamu Mantan

Semalam aku kedatangan tamu, mantan namanya. Masih serupa seperti dulu, hadir dengan sebuah puisi ungkapan rindu.
.
"Masuklah," ajakku.
Tak enak juga membiarkan dia berdiri dengan diksi mendayu dayu itu.
.
"Bolehkah aku mengungkapkan sesuatu?"
.
Sengaja tak kujawab. Dia kusuguhi segelas kenangan beserta camilan luka dan kecewa.
.
"Apa gerangan kau datang? Ingin menyegerakan bukti pengkhianatanmu kah?" cecarku dengan dua pertanyaan.
.
Kami satu sama, saling melempar tanya juga berdiam dalam bungkam menjawab.
.
"Pernahkah kau tau tentang mantan terindah?" tanya-nya lagi.
.
"Kau jangan bodoh! Tidak ada mantan terindah, sebab jika indah tak mungkin menjadi mantan," jawabku ketus.
.
Dan begitulah hingga menit ketiga puluh kita tak jua berada dalam obrolan yang bersahabat. Kau menikmati setiap tegukan kenangan itu. Daaann, kini kau mulai mencicipi apa itu luka dan kecewa.
.
"Pulanglah. Hari kan terus berganti."
.
Aku mengantarmu sampai depan pintu masa depan.
.
Aku berhak bahagia. Masa lalu boleh saja berisi kisah kelam, tapi aku punya hari esok yang masih kosong dari kisah apapun. Kali ini, aku hanya akan menuliskan kisah indah tentangmu; masa depanku.
.
ZT, 10-09-2015 -- menjelang makan siang dengan mata mengantuk

Nge-blank

Sampai waktu menunjukkan bahwa enam puluh menit lagi hari sudah berganti tanggal aku masih tetap menjelma menjadi wanita bodoh. Di laman sosial media aku cuma wara wiri seperti model yang tengah berlenggak lenggok.
.
"Mau-mu apa?!"
.
Waktu terus merangkak tanpa peduli dia sudah berjalan kemudian berlari meninggalkan setiap penanggalan penanggalan yang hanya dilewatkan entah dengan khayalan atau kerja nyata.
.
"Bangunlah. Lebih kejam pada dirimu jika ingin ketiadaan ini segera musnah."
.
Hhhh ...
Di luar sana butiran hujan yang sedari sore berhamburan derasnya kini sudah reda. Berpamit melalui rintiknya yang hanya jatuh satu per satu; mungkin malas pergi.
.
Harusnya ada kisah yang sudah tertulis, nyatanya diriku memang masih manja.
.
"Kau parah!!!"
.
.
ZT, 08/09/2015 -- Malam yang manja

Lelaki Imaji

Kau tetap sabar menungguiku, sedang aku masih larut dalam cerpen yang penuh imajinasi. Di tempat ini kita bertemu, bukan taman atau pun kafe. Aku memang selalu bercerita hal sederhana bila tentangmu. Entahlah. Kesederhanaan itu yang memacu semangatku agar kau menjadi terkenal. Setidaknya bagi mereka yang ada disana; tempat yang selalu ramai oleh pengunjung.
.
"Sudah selesai bacanya?" tanyamu lembut.
Aku mengangguk. Berpura-pura saja, hanya untuk kau senang karena telah melewati hal bodoh yang biasa kita lakukan.
Cinta memang mematikan naluri kecerdasan. Pikirkan saja, alasan apa yang menjelaskan bahwa menungguiku selesai membaca adalah keindahan?
.
"Kita kesana yuk?" ajakku.
.
Kau menggeleng. Lalu merogoh tasmu yang tampak lusuh itu. Mengeluarkan satu buku tulis serta sebuah pena.
.
"Kau tak ingin menulis cerita tentang kebersamaan ini?"
Tanyamu sesungguhnya mengisyaratkan sebuah pinta.
.
"Aku bisa menulisnya di laptop atau mengetik di hp jadul ini juga bisa."
.
Kau tersenyum lalu menggeleng lagi.
.
"Tulislah dalam buku ini. Akan tampak jelas bila kau pernah melakukan kesalahan, berbeda dengan kau mengetik. Kesalahan itu bisa hilang tanpa bekas."
.
"Maksudmu apa?"
.
"Kau memilihku karena kecerdasan ini, bukan? Dengan kecerdasanmu lah lahir sebuah pemahaman atas tanya itu sendiri."
.
Ah, hidup.

Kita

Ini ruang kita, tak pernah kubiarkan orang lain mengintip apalagi sampai menjejakkan kaki. Semuanya indah, masih sama seperti lima tahun lalu. Kau mengulang lagi kalimat:"Aku ingin menghabiskan sisa umur bersamamu juga mendekatkan diri pada Dia". Ah, begitulah kira-kira. Sayangnya, malam ini kau mengingatkan aku pada sebuah masa lalu. Aku marah. Kau mungkin lupa, kita pernah berjanji untuk tak pernah mengungkit apa itu yang pernah terjadi sebelum kau dan aku menjadi kita.
.
"Jangan pernah ada nama lain yang kita perbincangkan disini selain nama anak kita!" tegasku.
.
Kau tersenyum. Paling mengerti bila aku mengeluarkan kalimat penegasan.
.
Kita saling diam. Dalam bungkam bertemu dan berbincang dari hati ke hati. Aku yang tak pernah bisa marah terlalu lama padamu mencoba tersenyum dan berlalu.
.
Kau tahu, aku tak suka ruangan ini diterangi lampu kamar. Ini memang tak menarik sama sekali. Tapi ini cara cerdasku menahan tangis. Dengan cahaya, mutiara yang menggantung di pelupuk mataku takkan pernah terpeleset apalagi jatuh.
.
"Aku sayang kamu. S e l a l u."
Cukup bagiku. Kita saling memeluk dalam doa. Cinta itu memang sederhana.